
Tenang ini hanya dunia, jangan terlalu dikejar yang Penting akhirat..
Kalimat yang sering di salah pahami kalimat ini terdengar indah.
Tenang religius, seolah penuh kebijaksanaan.
Tapi jika tidak dipahami dengan jernih,
ia bisa berubah menjadi bius paling halus yang bisa melumpuhkan manusia.
Padahal dalam praktiknya, ini sering jadi kalimat penghibur diri bagi orang yang kalah oleh hidupnya sendiri.
Dunia memang sementara, tapi manusia hidup di dalamnya...
Tidak ada yang membantah dunia fana.
Tidak ada yang menyangkal akhirat tujuan
Namun Tan Malaka, lewat Madilog mengingatkan satu hal penting
Hidup manusia berjalan dalam hukum sebab akibat, bukan dalam niat kosong,
Artinya apa?
Akhirat tidak dicapai dengan lari dari dunia,
tapi melalui cara manusia memperlakukan dunia secara sadar dan bertanggung jawab
Ironisnya, banyak orang justru...
malas belajar, lalu berkata yang penting akhirat
tidak mau bekerja serius, lalu berkata rezeki sudah diatur"
menolak berpikir kritis, lalu berkata dunia cuma sementara
Padahal itu bukan spiritualitas itu pelarian yang dibungkus kesalehan.
Madilog menolak pola pikir pasrah yang membunuh akal.
Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) tidak mengajarkan manusia mengejar dunia secara rakus
Yang ditolak Tan Malaka adalah cara berpikir mistis yang memutus hubungan sebab dan akibat
Mari kita jujur sebentar ini akan sakit...
Kalimat: jangan terlalu kejar dunia yang penting akhirat
sering diucapkan bukan oleh orang yang sudah menaklukkan dunia,
tapi oleh orang yang tidak sanggup mengalahkan kemalasannya sendiri
Karena orang yang benar benar paham hidup akan berkata:
“Aku bekerja keras di dunia justru karena aku sadar akan akhirat
Sedangkan orang yang kalah oleh hidupnya sendiri akan berkata:
Sudahlah… dunia hanya sementara
Itu bukan kebijaksanaan itu resign mental.
Tan Malaka lewat Madilog membongkar penyakit utama manusia terjajah
berhenti berpikir logis dan menggantinya dengan penghiburan metafisik.
Ketika sebab akibat tidak dipahami manusia berhenti bertanya kenapa hidupku begini
dan mulai berkata sudah takdir padahal logikanya sederhana:
Tidak belajar artinya bodoh tidak disiplin artinya gagal tidak bekerja benar artinya miskin
Itu bukan ujian iman Itu konsekuensi.
Dunia tidak pernah meminta disembah...
Ironisnya, dunia sering dituduh sebagai sumber kerusakan.
Padahal dunia tidak pernah meminta manusia
berhenti berpikir berhenti belajar berhenti bekerja dengan benar
Yang membuat manusia rusak bukan dunia,
melainkan cara berpikir pasrah yang dibungkus kesalehan.
Menghindari tanggung jawab bukan zuhud.
Menolak berkembang bukan tawakal berhenti berpikir bukan iman Itu pelarian.
Kalau dunia benar benar tidak penting, kenapa kita takut miskin?
pertanyaan yang jarang dijawab jujur.
Kalau dunia tidak penting kenapa kita sakit hati saat diremehkan karena miskin?
kenapa kita iri melihat orang lain sukses?
kenapa kita marah saat tidak dihargai?
Jawabannya sederhana karena dunia tetap kita rasakan dampaknya yang kita tolak bukan dunia, tapi usaha menghadapi dunia.
Akhirat dijadikan tameng untuk tidak berubah
ini yang paling berbahaya....
Akhirat dijadikan alasan untuk tidak belajar
tidak memperbaiki diri tidak melawan kebodohan
tidak keluar dari zona nyaman padahal akal adalah amanah.
Dan amanah yang tidak digunakan akan dimintai pertanggung jawaban.
Madilog menegaskan: bangsa yang berhenti berpikir akan selalu tunduk, meski mulutnya penuh doa.
Bangsa lain bekerja, kita menenangkan diri
Sementara bangsa lain membangun ilmu
mengatur sistem kita sering sibuk berkata
yang penting iman padahal iman tanpa akal melahirkan ketergantungan,
dan ketergantungan melahirkan penindasan.
Dan anehnya…
yang miskin disuruh sabar, yang bodoh disuruh pasrah, yang tertindas disuruh ikhlas.
Sistem tertawa yang di bawah saling menghibur diri.
Dunia memang sementara.
Tapi kemalasan kita akan abadi dalam catatan hidup.
Akhirat bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Akhirat adalah alasan untuk lebih serius, lebih jujur, dan lebih cerdas, di dunia.
bukan dunia yang menipu manusia, melainkan manusia yang menipu dirinya sendiri dengan kalimat suci.
Dan ingat baik baik berpikir itu ibadah.
Bekerja keras itu tanggung jawab pasrah tanpa usaha bukan iman itu menyerah.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan ajakan untuk sama sama merenung dan memperbaiki diri, karena setiap orang sedang berjuang dengan jalannya masing masing.
“Tulisan ini tidak menolak iman, tetapi menolak cara iman dipakai untuk membenarkan kemalasan dan ketidak berdayaan.





